Selasa, 19 Maret 2013

Belajar Dari Zagar Dan Niha


Kita Harus Belajar Dari Zagar Dan Niha
Suka atau pernah menonton Pildacil? Saya suka, dan cukup sering mengikutinya. Percaya atau tidak, nampaknya kita memang harus banyak belajar. Termasuk dari dua anak kecil yang imut-imut itu. Namanya Zagar (Pildacil 2) dan Niha (Pildacil 3). Berikut adalah penilaian Saya yang semoga saja obyektif terhadap mereka berdua.
Sumber Penilaian: Assessment Bicara

1. ZAGAR
PERCAYA DIRI

8 - 9 - 10 = Saya menyukainya.

Saya menilainya dari ekspresi, intonasi dan fluency. Ia tidak ragu untuk mengeluarkan kata-kata. Seolah-olah, Ia tidak memilihnya. Semua ucapan keluar begitu saja. Ini tentunya, tidak lepas dari latihan selama di camp Lativi.

OTENTIK
8 - 9 - 10 = Emangnya harus jadi siapa?

Ia hanya menjadi Zagar. Itu saja.

PERSUASIF
8 - 9 - 10 = Jika Saya bicara, orang lain mendengar.

Setahu Saya, kondisi ini tidak hanya terlihat implisit. Beberapa pembimbing atau juri, bahkan secara eksplisit mengatakan bahwa jika Ia tampil, mereka "merasa harus" mendengarkannya. Salah satu yang mungkin berpengaruh besar di sini, adalah volume suara. Dan Zagar, adalah menggelegar.

ORGANISASI
8 - 9 - 10 = Saya tahu ada di mana, dan Saya tahu mau ke mana.

Ia tahu betul berada di mana dan akan ke mana. Ini sangat terbantu oleh pilihan poin utama yang hanya sedikit saja.

KUSTOMISASI
8 - 9 - 10 = Saya senang membuat setiap pembicaraan menjadi unik.

Ia melakukannya dengan tema-tema yang unik dan berbeda. Sekalipun, keunikan itu tidak karena ada hal baru yang perlu disampaikan. Semuanya adalah segala bentuk aktivitas keseharian setiap orang. Ia hanya membawakannya dengan cara yang unik dan berbeda.

INTEGRASI ALAT BANTU
8 - 9 - 10 = No problem.

Di Pildacil 2, alat bantu belum banyak digunakan. Akan tetapi, dengan kemampuannya Saya yakin Ia bisa melakukannya.

MENJAWAB PERTANYAAN
8 - 9 - 10 = Mau nanya apa?

Kredibilitasnya agak sulit diragukan. Ia hafal banyak hal, dan Ia mengerti semua hal itu. Pernah mendengar suara Zagar saat mengaji? Itu mendirikan bulu roma.

2. NIHA
PERCAYA DIRI
8 - 9 - 10 = Saya menyukainya.

Saya menilainya dari ekspresi, intonasi dan fluency. Ia tidak ragu untuk mengeluarkan kata-kata. Seolah-olah, Ia tidak memilihnya. Semua ucapan keluar begitu saja. Ini tentunya, tidak lepas dari latihan selama di camp Lativi.

OTENTIK
8 - 9 - 10 = Emangnya harus jadi siapa?

Ia hanya menjadi Niha. Itu saja.

PERSUASIF
8 - 9 - 10 = Jika Saya bicara, orang lain mendengar.

Setahu Saya, kondisi ini tidak hanya terlihat implisit. Beberapa pembimbing atau juri, bahkan secara eksplisit mengatakan bahwa jika Ia tampil, mereka "merasa harus" mendengarkannya. Hal-hal yang mungkin berpengaruh besar di sini, adalah volume suara, dan tatapan matanya. Lihatlah bagaimana Niha tidak pernah ragu menatap audience-nya.

ORGANISASI
8 - 9 - 10 = Saya tahu ada di mana, dan Saya tahu mau ke mana.

Ia tahu betul berada di mana dan akan ke mana. Ini sangat terbantu oleh pilihan poin utama yang hanya sedikit saja.

KUSTOMISASI
8 - 9 - 10 = Saya senang membuat setiap pembicaraan menjadi unik.

Ia melakukannya dengan tema-tema yang unik dan berbeda. Sekalipun, keunikan itu tidak karena ada hal baru yang perlu disampaikan. Semuanya adalah segala bentuk aktivitas keseharian setiap orang. Ia hanya membawakannya dengan cara yang unik dan berbeda.

INTEGRASI ALAT BANTU
8 - 9 - 10 = No problem.

Di Pildacil 3, alat bantu mulai banyak digunakan. Dan dalam situasi itu, kita bisa melihat bagaimana Niha begitu percaya diri dalam membawakan drama. Niha bahkan bisa berimprovisasi dengan akurat.

MENJAWAB PERTANYAAN
8 - 9 - 10 = Mau nanya apa?

Sama dengan Zagar.

Zagar dan Niha. Contoh dua public speaker cilik yang masa depan speakingnya luar biasa. Kepercayaan mereka pada diri sendiri begitu luar biasa. Saya bahkan terkesima ketika suatu saat, Niha justru mengajukan pertanyaan kepada juri dan pembimbing. Itu unik, itu kreatif. Dan saat Ia akan bertanya kepada Shahnaz Haque yang waktu itu menjadi pembimbing, Ia bahkan belum tahu namanya. Ia hanya melirik ke arah Akri Patrio dan berkata, "Siapa?" Ia hanya bertanya dengan satu kata. Ia bertanya dengan matanya.

Assessment ini juga Saya lakukan pada diri sendiri.
Dan Saya malu melaporkannya kepada Anda.

Ikhwan Sopa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar